Showing posts with label Bayan. Show all posts
Showing posts with label Bayan. Show all posts

Bayan Jemaah Tabligh(Dakwahlah dengan sukarela tanpa harus di bayar)

Assalam'mualikum
 serta merta kita Panjatkan sholawat dan salam kepada junjungan nabi besar kita (Muhammad saw) beserta

 para sahabat, keluarga dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Para pembaca yang di rahmati Allah Kali ini penulis ingin memberikan Bayan tentang Renungan Pendakwah

Sebelum Itu
Aku berlindung padaMu yaa Allah (Al Musta’adz) dari perkataan dustaku, Mohon ampun padaMu dari keterbatasan Lisanku.
Akhir-akhir ini banyak orang berDakwah, Menggelar pengajian dan Menyampaikan Kebenaran” alangkah senangnya bumi dan alam semesta, jika saja itu benar” Tapi coba Lihat kondisi dan kenyataan saat ini” Lihat fenomena alam saat ini” Lihat kondisi manusia saat ini” Lihat pekembangan moral manusia saat ini” dan Lihat pergerakkan Ajaran manusia saat ini yang mudah berubah dan berganti hanya diakibatkan Keraguan, Kecemasan dan Tak maunya untuk mengakui dengan jujur” Itukah yang menunjukan Kebenaran? Benarkah sudah yang di Dakwahkan”, di Ajarkan” dan di Kaji setiap saat? Mengapa tidak membuktikan dengan banyaknya mereka-mereka yang menyampaikan Kebenaran? menDakwahkan isi dari Kitabnya? Tahukah anda alangkah mudahnya berkata benar hanya dalam Ucapan” dalam Perkataan” bahkan yang mengaku berIman baca (Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 8) Begitu pula saat ini Lips service seakan-akan mereka sedang menyampaikan Kebenaran padahal Niat awal dan Motive berangkat karena bayaran” karena mencari Popularitas dan mencari sesuap nasi (tidak semua namun kebanyakan seperti itu) karena kalaulah memang benar-benar ingin menyampaikan Kebanaran dan menDakwahkan Ajaran pasti hari demi hari tahun demi tahun manusia, atau umat pasti Imannya bertambah, minimal kepekaan rasanya terhadap Kebenaran semakin bertambah, Rindu akan kampong halaman (Akhirat) Kegemaran mencintai Allah yang Ahad, yang Memiliki Kebesaran dan Keluhuran untuk dicintai dari semua bentuk cinta manusia” adakah itu? (ada namun sedikit kebanyakan tak seperti itu) alangkah tak sebandingnya mereka yang Mendakwah dan mereka yang menjadi umat, hampir nyaris sama, apalagi saat ini semua berebut, berlompa menjadi Penyampai dan Pendakwah, namun pernahkah dia sang Pendakwah, Penyampai bertanya pada Qolbunya, apakah sudah pantas untuk berdakwah / menyampaikan? atau pernahkah si Pendakwah (Ustadz, Mubaligh, Mu’alimah) menyelaraskan hidupnya kepada mereka-mereka yang telah diakui Allah Kebenarannya (Nabi, Rosul dan Abdi-abdi Allah) ?” kok begitu mudahnya mereka memperebutkan posisi untuk menjadi Pendakwah? Mengapa mereka tidak mudah untuk memperebutkan posisi menjadi Peyima' / Pendengar? Dimakah rasa malu sebagai manusia yang konon katanya memang memiliki Kebenaran dan mempunyai Iman? Mengapa tidak merasa berdosa atau minimal merasa betanggung jawab atas nasib umat yang mau belajar untuk benar” cobalah lihat kebawah nasib umat atau mereka-mereka yang kita Ajarkan, yang kita bimbing hingga menjadi Abdi-abdi Allah yang memiliki kekuatan dan ketahanan terhadap setiap bentuk ujian dan perjuangan menuju ke hadapan Allah?”….. Namun kenyataan” Betapa rapuhnya moral dan kekuatan Iman umat manusia saat ini yang di Ajarkan” yang mendengar Dakwah dan Pengajian dari mereka yang mengaku mampu berDakwah dan menyampaikan Kebenaran” Cobalah sadari minimal Renungkan” Bukan berarti berebut menjadi Pendakwah (Ustadz) bisa mendatangkan Kebenaran apalagi sampai bisa merubah nasib umat hanya dengan mengandalkan Ucapan, Perkataan bukan berarti semua manusia benar, tidak sulit untuk berkata benar, namun tanggung jawab dan konsisten terhadap kebenaranlah yang diperlukan. Suara orang banyak bukan berarti kebenaran, sebab kebenaran bukan ditentukan oleh kebanyakan orang, melainkan Hidayah yang didapat bila kita Mentilawah, Menqiroah isi yang tersirat dan tersurat dalam Al Qur'an dan Uswah dari setiap perjalan para Abdi-abdi Allah dan Rosul-Nya dalam menata diri dan menata dunia ini. Dari situlah bisa membuat datangnya kebenaran pada diri seseorang. Suara orang banyak bukan jaminan anda menuju Jannah, Perkataan dunia bahkan bisa menyesatkan anda dari jalan yang benar.(Al Qur'an surat AL AN'AAM ayat 116) Apalagi bila menyampaikan kebenaran berdasarkan Trend Mode duniawiah". Pikirkan itu bila anda mengaku Mubaligh, Mu'alimah, Da'i, (kata Ustadz tidak dipakai dalam Al Quran melainkan perkataan budaya Arab untuk menyebut Guru)” Semoga tulisan ini bisa membuat kita sadar dan merenungkan apa yang telah kita rasakan dan kita perbuat selama hidup di alam yang fana ini.
 Dakwah Islam sesungguhnya adalah dengan cara Khuruj Fi sabililah seperti yang di contohkan para sahabat dan Rasullulah Korbankan Harta (dakwah Bukan jadi ajang cari duit),Korbankan Anak Istri untuk memebela ajaran Allah (Keluar Bukan Untuk kesenangan dunia) jika untuk kesenangan Dunia Manusia sanggup untuk meninggalkan anak istrinya di perantauan hanya demi uang yang tidak seberapa di bandingkan jikalau kita merantau sebagai pendakwah seperti nabi Ibrohim yang rela melakukan apapun untuk Allah maka ganjaranya adalah surga. Maka dari Itu untuk merealisasikan Dakwah seutuhnya,seperti yang di contohkan Baginda Rasullulah dan para sahabat para pendakwah mesti mengorbankan diri,waktu,harta,anak dan istri luangkan lah waktu 10 persen saja untuk Allah tidak banyak, dibandingkan seperti Umat Nabi Musa yang sisa umurnya di gunakan hanya untuk Dzkirullah dan ibadah kepada Allah dan umur para Umat terdahulu bisa mencapai ratusan hingga ribuan tahun Umur manusia sekarang tidak kurang tidak lebih hanya 63 tahun klu lebih ya Alhamdulilah. 10 persen saja korbankan waktumu unttuk Allah enggak banyak kan?? Cukup 4 Bulan saja Untuk seumur hidup, Jikalau tidak sanggup 10 Persen dari 4 Bulan 40 Hari selama setahun, Masih tidak sanggup Luangkan waktu keluar di jalan Alah 10 persen dari 40 Hari 3 hari saja setiap bulan dan 2 setengah jam setiap hari.

Demikianlah Yang bisa saya sampaikan sekiranya ada kata-kata yang kurang berkenan

Bayan (AL-KHATIR) MAHA PEMBISIK

Membedakan Bisikan Allah, Bisikan, Malaikat, Bisikan Nafsu, Bisikan Syetan.

Tulisan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazaly dari kitab Roudlotut Tholibin wa-‘Umdatus Salikin, ini kami turunkan karena banyaknya pertanyaan dari pembaca soal cara membedakan bisikan-bisikan dari dalam hati, apakah dari Allah, nafsu atau syetan. Red.)Kajian ini seputar bisikan-bisikan hati (khawathir) dengan segala bentuknya, upaya memerangi, mengalahkan dan unggul dalam menghalau perbuatan syetan yang jahat. Juga bab ini tentang berlindung kepada Allah dari syetan dengan tiga cara:
-Pertama, anda harus mengetahui godaan, rekayasa dan tipuan syetan.
-Kedua, hendaknya anda tidak menanggapi ajakannya, sehingga qalbu anda tidak bergantung dengan ajakan itu.
-Ketiga, langgengkan dzikrullah dalam qalbu dan lisan anda. Sebab dzikrullah bagi syetan seperti penyakit yang menyerang manusia.Untuk mengetahui rekayasa godaan syetan, akan tampak pada bisikan-bisikan (khawathir) dan berbagai macam caranya. 
Mengenai pengetahuan tentang berbagai macam bisikan hati, patut anda ketahui, bahwa bisikan-bisikan itu adalah pengaruh yang muncul di dalam qalbu hamba yang menjadi pendorong untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, proses yang sepenuhnya terjadi di dalam qalbu ini berasal dari Allah – yang menjadi Pencipta segala sesuatu. Dalam kaitan ini, bisikan hati ada empat macam:
Suatu bisikan yang datang dari Allah swt. dalam qalbu hamba adalah sebagai bisikan awal, sehingga Dia disebut dengan Nama al-Khathir (Sang Pembisik).
Bisikan yang relevan dengan watak alam manusia, yang disebutan-nafs (jiwa).
Bisikan yang terdorong oleh ajakan syetan, yang disebut waswas (perasaan ragu-ragu).
Bisikan yang juga datang dari Allah yang disebut al-Ilham.
               Al-Khathir adalah bisikan yang datang dari Allah swt. sebagai bisikan awal, terkadang berdimensi kebaikan, kemuliaan dan pemantapan dalam berhujjah. Kadang-kadang berdimensi negatif dan sebagai ujian. 
Al-Khathir yang datang dari pemberi Ilham tidak akan terjadi, kecuali mengandung kebajikan, karena Dia adalah Yang Memberi nasihat dan bimbingan. Sedangkan al-Khathir yang datang dari syetan, tidak datang kecuali mengandung elemen kejahatan. Bisikan ini terkadang sepintas mengandung kebajikan, tetapi dibalik itu ada makar dan istidraj (covernya nikmat, dalamnya siksa bencana).
Sementara bisikan yang tumbuh dari hawa nafsu tidak luput dari elemen kejahatannya. Terkadang juga ada elemen baik tidak sekadar untuk pencapaian kenikmatan saja.Ada tiga persoalan yang harus anda ketahui di sini: Pertama-tama, beberapa ulama berkata bahwa jika anda ingin mengenal dan mengetahui perbedaan antara bisikan kebaikan dan bisikan kejahatan, maka pertimbangkan dengan tiga ukuran nilai (mawazin), yang dapat mendeteksinya:

Apabila bisikan itu relevan dengan syariat, berarti baik. Jika sebaliknya – baik karena rukhshah atau syubhat, maka tergolong bisikan jahat.
Manakala dengan mizan(ukuran nilai) itu tidak diperoleh kejelasan perbedaan masing-masing, sebaiknya anda konfirmasikan dengan teladan orang-orang saleh. Jika sesuai dengan teladan mereka, maka ikutilah, jika tidak ada kebaikan, berarti hanya suatu keburukan.
Apabila dengan ukuran nilai (miizan) demikian anda masih belum menemukan kejelasan, konfrontasikan dengan motivasi yang terdapat pada nafs (ego) dan hawa (kesenangan). Jika ukuran nilainya merujuk sekadar pada kecenderungan nafs (ego) yakni kecenderungan naluriah dan bukan untuk mencari harapan (raja’) dari Allah, tentu saja termasuk keburukan.Kedua, apabila anda ingin membedakan antara bisikan kejahatan yang bermula dari sisi syetan, atau dari sisi nafs (ego) ataukah bisikan itu dari sisi Allah swt., perlu anda perhatikan tiga hal ini:
Jika anda menemui bisikan yang kokoh, permanen, sekaligus konsisten pada satu hal, maka bisikan itu datang dari Allah swt., atau dari nafs (jika menjauhkan diri dari Allah). Namun jika bisikan itu menciptakan keraguan dan mengganjal dalam hati , maka itu muncul dari syetan.
Apabila bisikan itu anda jumpai setelah anda melakukan dosa, berarti itu datang dari Allah sebagai bentuk sanksi dari-Nya kepada anda. Jika bukan muncul dari akibat dosa, bisikan itu datang dari diri anda, yang berarti dari syetan.
Jika anda temui bisikan itu tidak melemahkan atau tidak mengurangi dari dzikir kepada Allah swt., tetapi bisikan itu tidak pernah berhenti, berarti dari hawa nafsu. Sebaliknya, jika melemahkan dzikir berarti dari syetan.Ketiga, apabila anda ingin membedakan apakah bisikan kebaikan itu datang dari Allah swt. atau dari malaikat, maka perlu diperhatikan tiga hal pula:
Manakala melintas sekejap saja, maka datang dari Allah swt. Namun jika berulang-ulang, berarti datang dari malaikat, karena kedudukannya sebagai penasihat manusia.
Manakala bisikan itu muncul setelah usaha yang sungguh-sungguh dan ibadah yang anda lakukan, berarti datang dari Allah swt. Jika bukan demikian,bisikan itu datang dari malaikat.
Apabila bisikan itu berkenaan dengan masalah dasar dan amal batin, bisikan itu datang dari Allah swt. Tetapi jika berkaitan dengan masalah furu` dan amal-amal lahiriah, sebagian besarnya dari malaikat. Sebab, menurut mayoritas ahli tasawuf malaikat tidak memiliki kemampuan untuk mengenal batin hamba Allah.Sementara itu, bisikan untuk suatu kebaikan yang datang dari syetan, merupakan istidraj menuju amal kejahatan yang lantas menjadi berlipat-lipat, maka anda perlu memperhatikan dengan cermat: Lihatlah, apabila dalam diri anda, pada salah satu perbuatan jika berasal dari bisikan di dalam hati anda dengan penuh kegairahan tanpa disertai rasa takut, dengan ketergesa-gesaan bukan dengan waspada dengan tanpa perasaan aman, ketakutan pada Allah, dengan bersikap buta terhadap dampak akhirnya, bukan dengan mata batin, ketahuilah bahwa bisikan itu berasal dari syetan. Maka jauhilah, Bisikan seperti itu, harus anda jauhi. Sebaliknya jika bisikan itu muncul bukan seperti bisikan-bisikan di atas, berarti : datang dari Allah swt., atau dari malaikat. Saya katakan, bahwa semangat yang membara dapat mendorong manusia untuk segera melakukan aktivitas, tanpa adanya pertimbangan dari mata hatinya, tanpa mengingat pahala bisa menjadi faktor yang membangkitkan kondisi itu semua.Sedangkan cara hati-hati adalah cara-cara yang terpuji dalam beberapa segi.Khauf, lebih cenderung seseorang untuk berusaha menyempurnakan dan mempraktekkan suatu perbuatan yang benar dan bisa diterima Allah atas amal perbuatan itu.Adapun perspektif hasil akhir suatu amal, hendaknya anda membuka mata hati dengan cermat dalam diri anda ada keyakinan bahwa amal tersebut adalah amalan yang lurus dan baik, atau adanya pandangan mengharapkan pahala di akhirat kelak. Ketiga kategori di atas harus anda ketahui dan sekaligus anda jaga. Sebab, semuanya mengandung ilmu-ilmu yang rumit sehingga sulit didapatkan dan rahasia-rahasia yang mulia. Wabillahi at-Tawfiq, wa Huwa’ Waliyyul-Hidayah.

Digital clock

Apakah postingan saya membantu ananda menambah wawasan tentang Islam?

There was an error in this gadget

Subscribe via email